Dari Masa ke Masa


ERMAN RAJAGUKGUK,
lahir di Padang, 1 Juni 1946  

  Cemara menderai hingga jauh
terasa hari jadi akan malam
ada beberapa dahan di ditingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

 

Sajak Chairil Anwar yang ditulisnya pada tahun 1949 itu mengingatkan saya kepada masa kecil sebagai murid Sekolah Rakyat 11 Jl. Mangkubumi, Medan. Diseberang Sekolah Rakyat itu tumbuh pohon-pohon cemara yang tinggi. Berderai-derai ranting dan daunnya ditiup angin. Saya suka memandang pohon-pohon cemara yang disapu angin dan gesekan ranting-rantingnya terdengar hingga jauh. Kini pohon-pohon cemara itu tidak ada lagi, karena ditempat yang sama telah berdiri ruko-ruko dan toko-toko. Namun, sekarang ini bagi saya “terasa hari jadi akan malam”.[1]
Pertama-tama perkenankan saya menyampaikan terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan pidato di mimbar ini. Kesempatan ini mengenangkan saya kepada percakapan dengan bapak saya sekitar 44 tahun yang lampau. Saya bertanya pada bapak: “Apa itu plonco-plonco, mengapa kepalanya botak dan pakai dot seperti anak bayi?” Sambil mengayuh sepeda, bapak menjawab ; “Kau harus rajin belajar, supaya bisa jadi plonco dari USU itu, calon dokter atau mester. Kalau kau main terus, nanti kau akan jadi tukang pedati saja.” Empat puluh empat tahun kemudian, hari ini, tidak ada lagi pedati-pedati dikota Medan dan saya mendapat kesempatan berpidato didepan Civitas Academica Universitas Sumatera Utara. Alangkah bahagianya bapak, kalau ia melihatnya. Bapak berpulang 4 tahun yang lampau, dibulan puasa juga. Bagi saya, Medan adalah kota kenangan, kota saya masa kecil. [2]
Semasa kecil tidak pernah saya mimpikan hendak menjadi apa, selain mendengarkan nasehat Bapak dan Ibu, agar rajin belajar. Bermain kelereng, karet gelang, gambar, layang-layang, gasing dan sebagainya amat menyenangkan dan belajar sebagai suatu perintah yang tak dapat digeser. Begitu juga pada waktu memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), saya tidak bisa menguasai pelajaran Ilmu Pasti, Aljabar, Ilmu Ukur dan Kimia, saya pun belum tahu hendak menjadi apa, kecuali senang berenang, main badminton, sepak bola dan bola volley. [3]
Peranan keluarga amat menentukan dalam hidup saya. Pertama-tama, saya ingin mengenang kakek saya Akil Ning (alm) dan nenek ku, Halimah Tusyadiah binti Achmad Dihardjo (alm). Kedua beliau itu dengan kasih dan sayangnya menginginkan dan berdoa agar saya kelak berada dijalan yang lurus dan menjadi berguna.
Masih segar dalam ingatan, Ibu dengan mengenakan telekung menunggu Subuh tiba, mengeja hafalan sejarah Pangeran Diponegoro dan Patih Gajahmada, dibawah lampu satu-satunya di rumah bekas gudang Pegadaian. Berulang-ulang hingga aku hafal benar. Setelah menjadi tua, aku ke makam Diponegoro dan prajurit-prajuritnya ditengah kota Ujung Pandang, merenungkan perlawanannya menegakkan keadilan dalam perang yang menguras kas Pemerintah kolonial di Jawa. Setelah menjadi tua, aku berkunjung ke Trowulan dekat Jombang tempat sisa-sisa keraton Majapahit, bertanya-tanya dalam hati dimanakah kira-kira Gajahmada bersumpah mempersatukan Nusantara. Aku ingat Ibu yang menunggui aku menghafal Pangeran Diponegoro dan Patih Gajahmada, ketika masih Sekolah Rakyat kelas III. [4]
Sambil mengantar dan menjemput dengan sepeda, Bapak setiap hari menanyakan pelajaran sekolah. Sore hari memegang jari-jari saya menulis “halus kasar”. Malamnya, mengajar langsung hitungan luar kepala. Kalau terlambat menjawab, Bapak jadi marah-marah. “itulah akibat main layang-layang terus. main kelereng terus…nanti kau jadi tukang pedati” kata Bapak. Ketika SMP Bapak tidak bisa lagi mengajar saya aljabar dan ilmu ukur ; meminta kemenakannya sebagai pengganti mengajar saya. Hari ini saya ingin mengenang abang dr. Bonar Rajagukguk (alm) dan abang Dapot Rajagukguk (alm) atas kesaba­rannya ikut mengajar saya pada waktu SMP di Medan dan di Jakarta atas permintaan Bapak, yang ingin melihat anaknya menjadi cerdas. [5] Ketika jadi plonco masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1964, saya juga belum sadar benar hendak jadi apa? Seorang senior bertanya pada saya : “Mengapa masuk fakultas hukum dan hendak menjadi apa? Saya menjawab spontan : “Ingin menyusun satu hukum nasional berkepribadian Indonesia, menggantikan hukum kolonial...”. “Ach, tak ada itu, itu politik, jadi sarjana hukum untuk cari duit” kata senior tersebut. Jawaban saya tampaknya slogan yang terinspirasi dari pidato-pidato Bung Karno, bapak bangsa sekaligus Pemimpin Besar Revolusi pada waktu itu ditahun 1960an yang berusaha keras menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri. Bertahun-tahun kemudian sampai hari ini dua-duanya, apa yang saya katakan dan jawaban senior saya itu tidak menjadi kenyataan. Tidak ada hukum Indonesia yang satu, melainkan pluralisme hukum, satu dan lainnya hidup berdampingan secara harmonis, tetapi kadang-kadang, setempat-setempat, bergesek menimbulkan percikan api dan asap. Begitu juga kehidupan saya, dari wartawan, pengacara-konsultan hukum ke akademisi dan dari sana ke birokrasi, birokrat sekaligus akademisi, kemudian kembali penuh sebagai akademisi.
Masa mahasiswa adalah masa yang panjang dan tak menentu. Baru setahun menjadi mahasiswa (1965), pecah gerakan melawan tyrani. Sebagai mahasiswa tahun kedua, ikut dalam demontrasi, hampir setiap hari. Dari 10 Januari s/d 11 Maret 1966 dan hari-hari sesudah itu. Bisa juga saya menulis sajak, yang beberapa diantaranya bersama penulis lain, dikumpulkan dalam “Lahir di Salemba”. Ada bait berbunyi : 

11 Maret, hari yang tak dikira-kira

kasihNya turun ke bumi

telah aku kabulkan pinta-pintamu

wahai hamba-hambaKu yang teguh

 

hari-hari yang berat telah kita lalui

dengan pedih, perih dan garang hati

Ironis, sampai sekarang Surat Perintah 11 Maret tidak pernah diketemukan dan pemegang surat perintah tersebut akhirnya menjadi diktator pula. Ikut menjadi panitia pembangunan masjid Arief Rahman Hakim Universitas Indonesia, sampai selesai tahun 1968. Kemudian tertarik menjadi wartawan, dimana saya belajar menulis berita dan artikel. Surat kabar itu dibredel oleh Pemerintah beberapa hari setelah pecahnya peristiwa “Lima belas Januari 1974”. [6]
Sebagai aktivis mahasiswa, hidup tak menentu, saya menggerutu. Namun demikian gaya tidak lepas dari romantika seorang aktivis, gandeng sana – gandeng sini, kecup kanan – kecup kiri. Waktu itu saya sampai hapal sajak Chairil Anwar yang diciptakannya pada tahun 1946. 

  cintaku jauh di pulau
gadis manis sekarang iseng sendiri
perahu melancar, bulan memancar
dileher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar

Karena tidak ada pekerjaan, saya menyelesaikan skripsi setelah 9 tahun tercatat sebagai mahasiswa. Kemudian mengasuh majalah Hukum dan Pembangunan bersama Mulya Lubis dan Yunus Husein.
Suatu hari Mulya Lubis berjalan bersama saya, di depan Bina Graha dibawah terik matahari, mencari helicak untuk ke Salemba. “Mari kita kalahkan Bang Buyung, Man” katanya. Saya pikir gila ini orang, mau mengalahkan abang Buyung, pejuang hukum, tokoh terkenal, naik volvo. Awak masih pakai sendal, terseok-seok kesana kemari. Namun saya tanya juga, “Bagaimana caranya Mul?”. “Kita sekolah ke Amerika, cari beasiswa. Kau belajarlah Bahasa Inggris – TOEFL”.
Belajar Bahasa Inggris, ini susah, saya mulai dari bawah. Hampir 8 kali mengikuti TOEFL, tidak sampai 500. Orang-orang berbisik-bisik : “mantan aktivis, Bahasa Inggrisnya begok”. Saya mendengarnya ... terasa pedih, terasa perih.
Abang Buyung membujuk saya untuk kerja dikantornya, “nanti abang kirim kau ke Amerika”, sergah abang. “Jangan patah semangat”, katanya. Abang Buyung selalu begitu, memberi harapan dan dorongan.
Baru setelah saya menikah dan dikaruniai Selly, pada tahun 1982, TOEFL mencapai 497 dan dapat beasiswa dari Caltex. Saya katakan pada istri saya, saya pergi 9 bulan saja, nanti kalau LL.M., bisa jadi partner di kantor abang Buyung. Sederhana sekali, tidak ada cita-cita menjadi doktor, apalagi professor, hanya menjadi partner supaya hidup mungkin bisa lebih baik.
Prof. Daniel S. Lev yang saya kenal sejak saya aktif di LBH Jakarta tahun 1971, menarik saya untuk belajar ke Seattle. “Kenapa pulang? Lanjutkan lagi, pasti Erman bisa”, katanya. “Lawyer banyak, tetapi yang memikirkan hukum sedikit. Membangun pendidikan hukum itu penting.” Karena dorongan itu saya cari-cari beasiswa lagi dan mendapatkannya dari “The World Bank”. Dengan bimbingannya dan para professor lainnya, saya bisa menyelesaikan Ph.D. Saya berjanji untuk menirunya, bagaimana ia memeriksa disertasi para mahasiswanya, mencoret-coret, memberikan komentar dan menunjukkan bagaimana memperbaikinya.
Dua minggu lalu saya ke Seattle semula ingin menemui Dan Lev yang sedang sakit. Namun ia berpulang tiga hari sebelum saya datang. Saya berjalan sendiri di kampus University of Washington, dari gedung ke gedung, mengenang guru saya itu, menoleh ke jendela bekas kantornya. Disekitarnya tampak sepi, hati saya merasa sunyi.[7]
Kembali lagi ke tahun 1988, sepulang dari Amerika, diminta oleh Prof. Charles Himawan menjadi Pembantu Dekan, kemudian menjadi Professor tahun 1997. Umurnya saya pada waktu itu sudah mencapai 52 tahun.
Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih yang sama kepada Bapak dan Ibu mertua saya. Beliau yang turut menjaga anak-anak ketika saya pergi kenegeri jauh hanya untuk membara dan menulis. Hatiku terenyuh, ketika Ferry yang mungil menolak untuk kugendong, karena sejak lahir sampai pada waktu itu memang belum pemah melihat bapaknya. Kepada isteri dan anak-anak yang aku cintai. Anda bertiga telah menyertai saya, melalui jalan yang panjang ke mimbar ini. Anda beserta saya dalam susah dan senang, dalam suka dan duka. Anda ikut memahami, jika berani karena mudah, takut karena sukar segala sesuatu itu tidak akan tercapai, sebab dalam hidup ini sukar dan mudah itu menjadi satu. Kebesaran upacara inisaya peruntukkan kepadamu isteri dan anak-anakku. Maha Besar Allah yang telah memberikan Racmat dan KaruniaNya kepada kita semua. Tentu anda bertiga bertanya dalam hati, apa lagi yang saya cari, di sore hari kehidupan saya ini, Tidak lain dan tidak bukan apa yang disabdakan junjungan kita Nabi Muhammad S.A,W, sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah : “Apabila manusia itu meninggal dunia maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara ; shadaqah jariyah. ilmu yang ditebar-tebarkan dan bermanfaat serta doa-doa anak-anaknya yang saleh.” Oleh karena itu saya akan terus mengajar, berusaha beramal dan dekat dengan engkau dan anak-anak dan isteriku.
Akhirnya, kepada rekan-rekan staf pengajar dan para mahasiswa yang menjadi tumpuan harapan saya. Marilah kita bekerja keras ber­sama-sama menimba ilmu dan dengan  itu nantinya menjadikan Indone­­sia negara hukum yang demokratis. Indonesia yang tetap bersatu, yang ekonominya terus tumbuh dan hasilnya merata.  Indonesia yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Para mahasiswa, tanah air menunggu mu. [8]
Pada tahun 1998, 14 hari sebelum Presiden Suharto mengundurkan diri, Pak Muladi memintanya menjadi Dirjen Hukum Perundang-Undangan Depatemen Kehakiman R.I. Delapan bulan kemudian, Akbar Tanjung memintanya menjadi Wakil Sekretaris Kabinet pada pemerintahan Presiden Habibie. Jabatan itu tak berhenti dijabatnya sampai tiga presiden berikutnya, 7 tahun berturut-turut.
Pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie ia menolak menerima Bintang Mahaputra yang akan dianugerahkan kepadanya. Dalam suratnya kepada Presiden pada waktu itu, ia mengatakan : “Maafkan saya bapak Presiden, rasanya belum tepat dan berat menerima penghargaan yang tertinggi tersebut, karena belum ada jasa yang amat luar biasa yang saya persembahkan kepada Ibu Indonesia”. Presiden Habibie tidak marah. Namun ia bersedia mengucapkan pidato terima kasih di Seattle pada saat University of Washington pada 28 November 2001, almamaternya yang kedua memberikan penghargaan kepadanya sebagai alumni yang terbaik pada waktu itu. Penghargaan yang highly prestigious dari University of Washington Chapter of the Order of the Coif diberikan karena kesetiannya kepada dunia akademis dan pengabdiannya kepada masyarakat.

 The Order of the Coif is a national honor society, comprised of the top ten percent of our graduating class, together with the entire law school faculty. The honorary initiation is a highly prestigious award, reserved for an exceptionally learned and distinguished member of the legal profession. Past honorary initiates includes such figures as U.S. Speaker of the House, now Ambassador to Japan, Thomas S. Foley; Washington State Governor Gary Locke; Taiwanese Professor Herbert H.P. Ma; and University of Washington Foundation Chair William H. Gates. This year, your name was proposed for this eminent distinction, and your nomination was duly adopted by unanimous vote of the University of Washington law school faculty." [9]

 Dalam pidato jawabannya ia mengatakan :

 I  would like to thank, specifically, Prof. Daniel S. Lev, Prof. Veronica Taylor, of Asian Law Program, Prof. Roy L. Prosterman and Robert Mitchell of the Rural Development Institute (RDI), Prof. Toshiko Takenaka of CASRIP and Ms. Sharon Nelson of the Center for Law, Commerce & Technology for their help. I would like to thank also Dean Joe Knight, Associate Dean Paula Littlewood, Dean Speer, Ruth Beardsley and Mr. Walter J. Walsh, The President of the University of Washington Chapter of the Coif, for making this event possible.

I shall return to Indonesia from my Seattle visit, heartened by this honor and hope for your longer-term support of our critical efforts developing my country." [10]

 Setahun sebelumnya dalam pidatonya dalam rangka Dies Natalis dan Peringatan Tahun Emas Universitas Indonesia (1950-2000) tanggal 5 Pebruari 2000, ia mengatakan bahwa peranan hukum di Indonesia adalah untuk menjaga persatuan bangsa, memulihkan ekonomi, dan memperluas kesejahteraan sosial. [11]
 Pada bulan Oktober 2005, ketika usianya tujuh bulan lagi mencapai enam puluh tahun, jabatan Wakil Sekertaris Kabinet dihapuskan dari struktur Sekertariat Kabinet (jabatan ini diadakan lagi tiga tahun kemudian). Ia berhenti jadi birokrat. Namun demikian birokrasi tetap meminta bantuannya, sebagai Asisten Menteri Perdagangan untuk pembahasan RUU Penanaman Modal di Dewan Perwakilan Rakyat kemudian mengahadapi yudisial review di Mahkamah Konstitusi. Menjadi anggota tim penasehat hukum Departemen Pertahanan R.I., anggota tim penasehat hukum di Kementerian Negara BUMN, Komite Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Disamping itu ia tetap giat memberikan kuliah di S1, S2, dan S3 Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Terus memberi kuliah juga secara berkala pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Universitas Subaraya (Ubaya), Universitas Pelita Harapan Surabaya. Disamping itu menjabat juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jakarta, anggota Komite Perbankan Syariah, Bank Indonesia.
 Erman Rajagukguk sejak diangkat menjadi Gurubesar tahun 1997 sampai dengan 2008 telah menjadi promotor dari 33 disertasi doktor ilmu hukum dan 10 diantara mereka telah menjadi Gurubesar pula. Dalam pidatonya sebagai promotor pada Promosi Natasya Yunita Sugiastuti menjadi doctor Ilmu Hukum 10 Mei 2003 ia mengatakan antara lain :
“Dua puluh lima tahun yang lalu dibulan Juni juga, suatu sore menjelang senja, saya bertanya kepada Ibu Ihromi dirumah beliau, tentang bagaimana ibu berhasil menyusun disertasi? Sebelumnya pada pagi hari, saya menyaksikan Ibu Ihromi mempertahankan “Adat Perkawinan Toradja Sa’dan dan tempatnya dalam Hukum Positif Masa Kini”.
Ibu Ihromi berkata : “Anggapan yang keliru bahwa disertasi dianggap sebagai sesuatu yang sukar, sehingga orang cepat menganggap dirinya ... akh saya tidak bisa.” “Kembali kepada pertanyaan Erman,” kata Ibu lagi, “kita itu sebagai pendidik harus mempunyai suatu kepercayaan, ya memang bisa ... kalau diusahakan. Kita bersama-sama dapat membinanya.”
Dua puluh lima tahun yang lalu, percakapan itu, ketika pikiran saya silang menyilang, ketika hidup tidak jelas bagaimana dan hendak kemana.
Masa berganti masa, usia berjalan mengikuti waktu, membaca kembali percakapan itu pada majalah ‘’Hukum dan Pembangunan” No. 4 tahun ke VIII 1978, 25 tahun kemudian ; bagi saya hari ini terasa jadi indah, karena saya dan ibu Ihromi, bersama-sama membimbing lahirnya lagi seorang wanita Doktor Indonesia dibidang hukum … Promotor, Ko-Promotor, dan para anggota pengujimu adalah akademisi dari tiga generasi. Cepat atau lambat akan menyerahkan tongkat estafet kepadamu, Bawalah tongkat itu berlari, seperti saya membawanya siang dan malam, malam dan siang. Meminjam kata-kata yang amat saya senangi dari Chairil Anwar, penyair Indonesia terkemuka : “... Kubawa berlari, berlari hingga hilang pedih perih” Pedih melihat hukum sekali tegak, sekali runtuh. Perih, karena adakakanya kita tidak tahu dari mana memulai untuk menegakkan bagian-bagian yang runtuh itu. Saya penuh harap pendidikan hukum mampu berperanan mengatasi hal tersebut yang menjadi persoalan besar bangsa kita dewasa ini. [12] 
Pesan itu diulanginya lagi pada pidato promosi doktor Tengku Keizerina Devi Azwar yang mempertahankan disertasinya “Globalisasi Dan Poenale Sanctie” di Universitas Sumatera Utara, Medan 31 Januari 2004 :
“Promotor, para Ko Promotor dan penguji mu datang dari tiga generasi. “Musim ganti berganti,” begitu jugalah generasi. Cepat atau lambat kami akan menyerahkan tongkat estafet kepadamu. Bawalah tongkat itu berlari, seperti saya membawanya berlari, siang dan malam, malam dan siang. Disertasimu adalah cermin bersatunya semangatmu dan semangat kami, promotor, para ko-promotor dan anggota penguji. Bawalah semangat semacam itu serta, kemanapun engkau pergi, melintasi gunung-gunung ilmu dan lembah lembah pengetahuan tak berbatas, melalui jalan yang kami buka. Ibu Indonesia pastilah bangga dan berbesar hati menanti-nantikan baktimu itu”. [13]  
Pada kesempatan lain, waktu berpidato dalam promosi doktor Riyatno 1 Juni 2005 ia berkata :
“Rasa terima kasih saya, kepada Prof. Dr. Koesnadi Hardjasumantri selaku Ko Promotor yang juga telah memberikan usul-usul perbaikan dalam proses penulisan disertasi. Prof Dr. Koesnadi tidak saja saya anggap sebagai guru, tetapi seperti orang tua saya sendiri, Masih segar dalam ingatan saya, pada tahun 1970an, sebagai aktivist mahasiswa, waktu itu sebagai Sekjen lkatan Mahasiswa Hukum Indonesia, selalu saya datang pada beliau,minta ticket dan ongkos untuk pergi seminar. Saya katakan ;
“Biar besok langit akan runtuh, hari ini hakumharus ditegakkan”.Hari ini 35 tahun kemudian, saya sudah berusia 59 tahun, pernah menjadi Dirjen Hukurn dan perundang-undangan, Wakil Sekretaris Kabinet Rl, Guru Besar Hukum, dan orang-orang bertanya : “Mengapa hukum belum tegak-tegak”.
Saya menjawab sarnbil tertegun : “Hukum tidak pernah tegak terus menerus, sekali tegak- sekali runtuh, karena hukum berkaitan dengan ekonomi, politik, dan tingkah laku manusia”. Tugas kita adalah menegakkannya ketika hukum itu runtuh, suatu pekerjaan yang tidak mudah, Terima kasih  yamg sama saya sampaikan kepada, Prof. Dr. Emil Salim, yang saya kagumi sejak saya mahasiswa. Sebagai mahasiswa hukum,pada suatu sore saya berdiri di tepi jalan di depan Fakultas Tehnik Ul di Salemba, dari kejauhan memperhatikan beliau memberi kuliah di ruangan Fakultas Ekonomi,yang kelihatan dari jalan.
Saya terkagum-kagum membaca tulisan-tulisan beliau sebagai kolumnis “HARIAN KAMI”, di tahun 1966 dan tahun-tahun berikutnya.Tulisan-tulisan beliau memberikan inspirasi bagi saya untuk belajar menulis dan kernudian menjadi wartawan “HARIAN KAMI” tersebut sampai dibriedel tahun l974.
Hari ini saya merasa bahagia, bersarna-bersama beliau melahirkan seorang Doktor Ilmu Hukum dalam kaitannya dengan Perdagangan International dan Lingkungan Hidup... [14] 
Pada kesempatan lain lagi, dalam pidato promotor pada promosi doktor Anas Lutfi 30 Desember 2008 ia berkata :
Pada bulan Mei 1978, di atas delman, dalam perjalanan pulang setelah menghadiri pesta panen tebu di Pabrik Gula Jatibarang, yang dalam istilah setempat disebut metikan; seorang kakek berkata kepada cucunya : ”... koen kudu rajin sinau ... eben ora kaya bapagede ... saya suwe ... wong tani saya susah uripe...”, artinya : ...kamu harus rajin belajar... supaya tidak seperti kakekmu... semakin lama hidup sebagai petani semakin susah...
Kata-kata sang kakek itu demikian membekas dalam sanubari cucunya. Tiga puluh tahun kemudian, kegelisahan itu dituangkan dalam bentuk disertasi oleh cucu tersebut, Anas Lutfi, yang membawanya menjadi Doktor Ilmu Hukum, sebagai tanda kenangan kepada sang kakek almarhum Haji Anwar Yusuf. [15]  
Hari ini ia masih membimbing 9 disertasi yang diharapkan selesai pada tahun 2009 dan 2010, disamping membimbing berbagai skripsi dan tesis. 
Allah telah memberikan kepadanya, apa yang dikenal dalam dunia hukum sebagai ultra petita, mengabulkan lebih dari apa yang diminta.



[1] Pidato penerimaan buku “Masalah-Masalah Hukum Ekonomi Kontemporer” dan Peluncuran buku “Nyanyi Sunyi Kemerdekaan”, 16 Agustus 2006, hal. 2.

[2] Globalisai Hukum Dan Kemajuan Teknologi : Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum Dan Pembangunan Hukum Indonesia, Pidato Pada Dies Natalis Universitas Sumatera Utara Ke-44, Medan, 20 Nopember 2001.

[3] Pidato penerimaan buku “Masalah-Masalah Hukum Ekonomi Kontemporer” dan Peluncuran buku “Nyanyi Sunyi Kemerdekaan”, 16 Agustus 2006, hal. 2.

[4] Peranan Hukum Dalam Pembangunan Pada Era Globalisasi : Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum Di Indonesia, Pidato pengukuhan diucapkan pada upacara penerimaan jabatan Guru Besar dalam bidang hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 4 Januari 1997, hal. 29.

[5] Ibid., hal. 28.

[6] Pidato penerimaan buku “Masalah-Masalah Hukum Ekonomi Kontemporer” dan Peluncuran buku “Nyanyi Sunyi Kemerdekaan”, 16 Agustus 2006, hal. 4.

[7] Ibid., hal. 6.

[8] Peranan Hukum Dalam Pembangunan Pada Era Globalisasi : Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum Di Indonesia, Pidato pengukuhan diucapkan pada upacara penerimaan jabatan Guru Besar dalam bidang hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 4 Januari 1997, hal. 31.

[9] Surat University of Washington, School of Law, kepada Erman Rajagukguk, 25 Oktober 2001.

[10] Pidato pada penerimaan THE ORDER OF THE COIF, University of Washington School of Law, Annual Banquet and Initiation, Seattle, November 28, 2001, hal. 7.

[11] Pidato Pada Peringatan Dies Natalis dan Peringatan Tahun Emas Universitas Indonesia (1950-2000) Kampus UI Depok, 5 Pebruari 2000.

[12] Pidato Promotor Pada Promosi Natasya Yunita Sugiastuti Menjadi Doktor Ilmu Hukum, 10 Mei 2003, hal. 7-9.

[13] Pidato Promotor Pada Promosi Doktor Tengku Keizerina Devi Azwar, Universitas Sumatera Utara, Medan 31 Januari 2004.

[14] Pidato Promotor Pada Promosi Doktor Ilmu Hukum untuk Riyatno, Di Universitas Indonesia, 1 Juni 2005.

[15] Pidato Promotor Pada Promosi Doktor Ilmu Hukum untuk Anas Lutfi, Di Universitas Indonesia, 30 Desember 2008.



 

| Home |

Copyright ©Erman Rajagukguk 2009 | www.ermanhukum.com