Komentar Hukum Minggu Ini

 

KRISIS PANGAN

Erman Rajagukguk

 

 

Krisis pangan lebih menantang daripada krisis ekonomi, dimana rakyat masih harus berjuang untuk mendapatkannya. Diperkirakan ada 1,6 milyar orang di seluruh dunia yang masih berpendapatan di bawah 1 dollar per hari dan menderita kekurangan pangan. Oleh karena itu pertanian telah menjadi agenda politik pembangunan internasional. Demikian kata Annemie Burger, Menteri Pertanian, Alam, dan Kualitas Pangan Belanda, yang disampaikan oleh wakilnya dalam pembukaan `Science Forum 2009` di Wageningen. Konferensi yang berlangsung tanggal 16–17 Juni 2009 ini diikuti oleh sekitar 300 ilmuwan dari seluruh dunia, membicarakan pertanian, pangan, sumber daya alam, dan kemajuan teknologi.

Ilmu pengetahuan begitu penting. Tanpa itu kita tidak bisa memelihara sumber daya alam. Transfer ilmu pengetahuan menjadi mutlak untuk pembangunan berkelanjutan. PBB sendiri dalam program pembangunan berkelanjutan telah menempatkan pertanian sebagai prioritas utama. Pertanian telah menjadi kekuatan pendorong pembangunan. Namun demikian, pembangunan pertanian itu tidak bisa lepas dari faktor finansial, sosial, politik, peraturan perundang-undangan, adat istiadat, norma, dan organisasi. Saya jadi merenung, apakah tidak sudah tiba waktunya untuk mengamandemen Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok–Pokok Agraria yang sudah berusia 49 tahun lebih. Masalah sumber daya alam, pertanian, dan kebutuhan akan tanah sangat erat hubungannya. Saya terkesima dalam forum yang demikian, ada usul memanfaatkan tanah-tanah kecil seperti pekarangan untuk tanaman sayur-sayuran pelengkap pangan sehari-hari. Pedesaan Indonesia sudah lama mengenalnya.

Wageningen merupakan kota salah satu universitas terkemuka dunia di bidang pertanian. Universitas itu merubah namanya menjadi Wageningan UR – University Research. Sekarang ini Wageningen UR mempunyai sekitar seratusan kandidat Ph.D dan Master di bidang pertanian, menghubungkan teknologi baru dengan institusi pemerintah dan swasta melalui riset.

Saya kembali terkejut, ada yang menyapa, “Dari Indonesia, ya? Siapa Presiden yang akan datang?”. “Saya rasa SBY lagi.”, jawab saya. Dia berhasil menjadikan Indonesia swasembada beras. Apalagi calon wakilnya, menetapkan pertanian sebagai basis ekonomi kerakyatan.”

 

Yustisia, Jurnal Nasional, Kamis, 18 Juni 2009.

 


<Arsip Komentar Hukum>


| Home |

Copyright ©Erman Rajagukguk 2009 | www.ermanhukum.com